Dari Gunungkidul Mengunjungi Pulau Berjuluk Mutiara Hitam

Tugu Perbatasan RI-PNG

Bepergian mengunjungi suatu tempat untuk pertama kalinya memberikan pengalaman dan pengetahuan baru. Dengan merekamnya dalam ingatan, rangkaian kegiatan perjalanan dapat menjadi oleh-oleh setelah kembali ke tempat asal.
Menjadi sebuah trend, bahkan sepertinya tidak sah jika tanpa mengabadikan momen dengan berfoto berada di lokasi kunjungan. Memang sSwafoto/ selfie atau bersama rekan dengan backgroud spot yang menunjukkan ciri khas suatu daerah dapat dibilang membanggakan.
Melakukan sebuah kunjungan dapat memperkaya diri dan memahami tentang banyak hal, sesuatu yang baru atau atau menemui sesuatu yang berbeda, atau bahkan yang tidak ada di tempat asal.
September 2016 lalu saya memiliki kesempatan bepergian. Untuk ukuran seorang yang kuper bisa dibilang perjalanan ini agak jauh. Ini kali pertama saya pergi ke luar dari Pulau Jawa, pulau terpadat se Indonesia.
Menempuh beribu-ribu mil dari Gunungkidul saya mengunjungi Papua. Di Pulau berjuluk mutiara hitam ini saya singgah di dua kabupaten, yakni Merauke dan Boven Digoel. Kesan pertama saat menginjakkan kaki di tanah Papua, yang tak lain sebagai Provinsi terluas di Indonesia ini, seketika dalam hati berucap, “Indonesia benar-benar luas dan kaya,”.
Perjalanan via udara menggunakan pesawat sebelum mendarat di Merauke, mampir terlebih dahulu di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan. Lalu lanjut di Bandar Udara Internasional, Sentani Jayapura.
Mendarat di Bandara Mopah Merauke.
Papua memiliki potensi sumber daya alam yang cukup beragam, ada tembaga, minyak, batu bara dan gas. Selain itu bentangan alam berupa hutan juga masih sangat luas. Saat mengunjungi Merauke yang disebut kota Rusa, kami menyempatkan menengok perbatasan Indonesia-Papua New Guinea (PNG) di Distrik Sota.
Di perbatasan ini, beberapa masyarakat pesisir berjualan berbagai kerajinan dan aksesoris khas Merauke. Untuk melengkapi dagangan, mereka juga menjual berbagai minuman kemasan, mengingat cuaca di perbatasan Indonesia timur ini cukup terik.
Perbatasan RI-PNG ditandai dengan bangunan Tugu yang disebut Tugu Sabang-Merauke. Tugu yang sama atau kembar berada di Sabang, Aceh. Bangunan ini merupakan simbol kesatuan NKRI, sebagaimana lagu ‘Dari Sabang sampai Merauke’.
Dari Merauke perjalanan kemudian dilanjutkan ke Kabupaten Boven Digoel. Kabupaten yang beribukota di Tanah Merah ini berjarak sekitar 400 km lebih dari Merauke. Apabila ditempuh melalui jalan darat menghabiskan waktu selama kurang lebih 8- 10 jam.
Kondisi ruas jalan Merauke-Tanah Merah
Jauhnya jarak Merauke-Tanah Merah dan sulitnya akses jalur karena kondisi jalan berupa tanah merah yang rusak dibeberapa titik membuat durasi perjalanan cukup lama. Apabila kondisi jalan basah atau setelah terjadi hujan perjalanan menuju Boven Digoel menjadi semakin banyak kendala. Jalan menjadi berlumpur dan licin. Daerah ini seakan terisolir, kendaraan roda empat jenis tertentu saja yang bisa menembus dan melaluinya.
“Biasanya truk, tetapi apabila hujan berfikir ulang untuk melayani trayek ini, kendaraan berspesifikasi offroad macam hilux, triton dan sejenisnya yang terbiasa melayani jasa transportasi Merauke-Tanah Merah,” kata Taufan salah satu penyedia jasa angkut penumpang dan barang yang mengantar perjalanan kami.
Apabila nekat, maka truk dapat terjebak berjam-jam hingga seharian untuk keluar dari ruas jalan yang rusak. Pemuda asal Makassar ini menginformasikan kepada kami, selain jarak dan sulitnya akses jalan, yakni berupa tanah lumpur dibeberapa lokasi membuat biaya jasa transportasi mahal merupakan suatu kewajaran. Dalam sekali jalan untuk tiap penumpang berikut barang biasa membayar antara Rp. 700 ribu hingga Rp. 1,5 juta.
Kondisi ini tentu berpengaruh terhadap perekonomian di Boven Digoel. Harga kebutuhan pokok tentu sangat berbeda apabila dibandingkan dengan di Merauke. Apalagi di Distrik-distrik atau perkampungan yang sulit dijangkau di Boven Digoel. Bagi pendatang baru harga kebutuhan terasa sangat tinggi. Saya bandingkan dengan di Gunungkidul, beberapa komoditas harga di kota Gaplek jauh lebih murah, bahkan berselisih lebih dari separuhnya.
Namun dibalik itu, peluang kerja dan wirausaha masih sangat terbuka di wilayah ini. Pedagang dari luar cukup banyak berdatangan, berada di sudut-sudut sekitar Bandara Tanah Merah, melengkapi pasar tradisional warga setempat.
Kendati medan sangat sulit, tetap saja ada pedagang yang mengambil dagangan ke Merauke menggunakan sepeda motor. Perjalanan ratusan kilo meter ditempuh melalui medan yang tidak bersahabat tetap dilakukan. Rutinitas perjalanan yang terkadang hingga malam hari di atas jalan tanah berlumpur dan licin dilakukan. Suara sepeda motor mereka menderu memecah kesunyian malam saat melintasi hutan. Bersama mobil tumpangan kami sempat mendahului beberapa pemotor.
Mahalnya harga barang dan jasa, sempat membuat saya kaget, salah satunya mengenai harga jasa cuci mobil, di Boven Digoel biaya jasa cuci mobil mencapai Rp. 100 ribu untuk tiap mobil. Bagi Taufan dan penyedia jasa angkut lainnya, harga sekian ini sudah biasa.
Pelajar SD di Tanah Merah berangkat sekolah.
Menengok sekilas mengenai pendidikan, apabila dibandingkan dengan di Gunungkidul juga sangat jauh berbeda. Beberapa informasi yang saya dapat perbedaan terdapat dalam penyelenggaraannya, pelajar SD- SMP biasa menempuh berkilo-kilo meter untuk sampai di sekolahan. Tetapi terkadang terpaksa kembali pulang karena guru tidak hadir.
“Dalam seminggu hanya beberapa kali saja ada kegiatan belajar, siswa hanya mengira-ira guru hadir apa tidak,” ujar Baltasar Nekatmo warga setempat.
Sebenarnya masih banyak pengalaman yang membuat saya terkesan di tanah Papua, sekilas cerita pengalalam baru selama 6 hari itu membuat saya kagum, bahwa Indonesia luas dan kaya. Dengan aneka dinamikanya, spirit untuk bergerak maju dan berkembang merupakan sebuah keniscayaan. (kang Kandar)

Comments